Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kelainan’



Pada posting sebelumnya, saya sudah menuliskan tentang pengalaman saya menemukan beberapa kasus kelainan dengan dua vagina (kasus 1, kasus 2).
Nah, kali ini saya akan menuliskan pengalaman saat menemukan kasus dengan dua rahim atau double uterus. Saat ini di Pekanbaru sendiri saya berkesempatan menemukan dua kasus double rahim.

Kelainan ini terjadi akibat gangguan saat pembentukan rahim (uterine malformation) dimana gagal saat fusi embryogenik ductus mulleri gagal terjadi. Kelainan ini `satu keluarga` dengan kelainan dua vagina atau bouble vagina, dan kedua kelainan ini bisa muncul berbarengan juga. Angka kejadiannya 1 dalam 3000 wanita. Diagnosis bisa ditegakkan dengan pemeriksaan usg, namun tak jarang pula luput dan baru diketahui saat operasi cesar dilakukan. Metode pemeriksaan yang lain seperti sonohysterography, hysterosalpingography, MRI, and hysteroscopy dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis double uterus. Kemungkinan hamil pada kasus ini bisa terjadi dan risiko yang bisa terjadi diantaranya adalah prematuritas, pertumbuhan janin terhambat dan persalinan secara caesar. Bookmark and Share <!– AddThis Button

Advertisements

Read Full Post »


Bersama Prof Dario Paladini (Italy) yang sangat mumpuni dalam bidang fetosonografi

Pada awalnya teknologi ultrasonografi dikembangkan untuk melihat dan mendeteksi adanya kapal selam di dasar laut. Namun manusia berfikir, kira-kira kapal selam di laut kok hampir mirip dengan baby dalam kandungan yang penuh dengan air ketuban. Jadi aplikasi ultrasonografi juga dikembangkan di bidang medis salah satunya untuk evaluasi dan deteksi bayi.

Dari gambar buram nan bikin mata pusing, akhirnya sekarang sudah mencapai tekhnologi 4 D yang mampu menghadirkan gambar bayi dalam perut laksana foto wajah yang biasa kita kerjakan di studio foto.



Lebih jauh pemeriksaan USG berguna untuk screening dan deteksi adanya kelainan janin mulai dari kepala hingga ke kaki.
Apakah suatu saat tekhnologinya berkembang hingga 6 D alias 6 Dimensi yah?? Bookmark and Share

Read Full Post »


……..

Aleta, wanita yang berusia 57 tahun dan hamil


Banyak muncul pernyataan baik dari pasien maupun dari masyarakat, `Wah udah tua, dok. Ga mau hamil, takut nanti anaknya cacat` atau `Udah ah, udah tua, jadi ga berani hamil lagi`. Tentu kita harus mengkaji hal ini lebih jauh lagi, atau kita sekadar mengiyakan saja hal tersebut???

Sebelum menjawab hal tersebut, mari kita menoleh beberapa kasus yang bisa kita jadikan contoh. Frances Harris, seorang ibu dari Georgia (US), telah melahirkan anaknya pasa usia 59 tahun. Kemudian Aleta St. James telah melahirkan pada usia 57 tahun di RS Mount Sinai, New York. Jangan keburu heran dan takjub, karena itu ternyata belum seberapa dibandingkan Elizabeth Adeney dari Suffolk (UK) yang bersama Adriana Iliescu dan Omkari Panwar tercatat sebagai ibu yang melahirkan anaknya di atas usia 60!!!!

Jadi bagaimana nih?? Kok kayaknya tidak terbukti yah ketakutan wanita yang sudah `berumur` untuk hamil lagi?? Dari pengalaman saya sehari-hari memang banyak juga wanita yang hamil pada usia 35 tahun ke atas. `Rekor` usia pasien saya melahirkan adalah seorang ibu dari Bangkinang berusia 45 tahun 4 bulan yang melahirkan anak pertama dan lahir secara spontan dan sehat!!
oh ya terakhir rekor bertambah, salah satu pasien saya melahirkan di usia 50 tahun dan kala itu dimuat di majalah Kartini plus saya ikut nampang disitu.

Jadi bagaimana nih sikap kita atas pernyataan `Wah udah tua, dok. Ga mau hamil, takut nanti anaknya cacat` atau `Udah ah, udah tua, jadi ga berani hamil lagi`? Hmm….saya sebenarnya tidak setuju dengan pernyataan tersebut. Kenapa ya kira-kira?? Yang saya tidak setujui bukan karena tidak mau hamil lagi, tapi lebih ke ALASAN tidak mau hamil lagi. Kalau bilang tidak mau hamil lagi karena sudah merasa cukup, tentu YES, saya setuju. Tapi kalau alasannya takut cacat, atau takut bahaya tentu NO, saya tidak setuju.

Kenapa sih alasannya tidak setuju?? Alasannya adalah, karena mereka sebenarnya PENGEN hamil lagi, hanya TIDAK BERUSAHA!! Kita sebagai mahluk yang percaya Tuhan, tentu wajib berusaha bila kita mempunyai keinginan, tul gak?? Masa nyerah segitu gampangnya tanpa perlawanan…

Usaha apa sih yang harus dilakukan?? Good question brother and sister…Usaha yang harus dijalankan antara lain adalah:
1. Melakukan pemeriksaan atau skrining awal
Pemeriksaan meliputi kondisi umum apakah sehat atau tidak, jantung oke atau gak, ada tekanan darah tinggi atau tidak, penyakit kencing manis, tiroid, dll. Kalau pun ada, tentu perlu ditangani dulu kondisi tersebut dan bisa terkendali atau tidak. Ok taruh lah aman ga ada masalah, bole hamil dong?? Eit, tunggu dulu..lihat hal berikutnya.
2. Tinggal tidak terpencil dan sanggup periksa rutin ke dokter kandungan
Ini juga poin yang sangat penting lho. Coba bayangin kalo sang ibu lulus poin pertama, tapi tinggal di pucuk gunung yang jarak terdekat ke RS adalah 15 jam perjalanan…wuiih. Atau misalnya tinggalnya di kota tapi ga mau periksa ke spesialis dan malah periksa ke dukun..Itu kembali namanya manusia yang kurang usaha, ya ga?? Kalau sanggup, maka lulus poin kedua..so lanjut poin 3.
3. Sanggup melahirkan di RS atau dengan pengawasan dokter spesialis kandungan
Hal ini jelas untuk memperkecil resiko yang ada dibandingkan bila pertolongan dilakukan oleh bidan apalagi traditional birth attendant (red:keren yah, padahal yg dimaksud adalah dukun beranak).

Nah, kalo kira-kira sanggup memenuhi tiga syarat tersebut diatas, maka bagi ibu2 yang berumur diatas 35 tahun, 40 tahun, atau 45 tahun dan masih ingin menambah anak…..silakan saja bu…Jangan membatasi diri, karena itu adalah hak ibu, tp ingat….penuhi ketiga poin tsb diatas.

Mau tahu rahasia ga?? Stttt……usia ibu saya waktu melahirkan saya baru 42 tahun lho….
Bookmark and Share
………

Read Full Post »