Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘kista coklat’


image

Menikah sudah 4 tahun.

Pertama periksa bulan September 2013 ditemukan adanya kista coklat dikedua indung telur ukuran hingga 10cm yang mengalami puntiran sehingga pasien kesakitan terbungkuk bungkuk. 
Pasien setuju dilakukan tindakan laparoscopy. 

Bulan Desember akhir 2013 pasien datang dengan tertawa dan senyum ,sudah telat haid plus pack test.Alhamdulillah ternyata sudah hamil dan sudah ada denyutnya.Pertama datang kesakitan dan terbungkuk-bungkuk.Berikutnya datang dengan tawa dan senyum bahagia.

Semua rahasia Allah. 

Semoga semua pasangan yang mengharapkan buah hati mendapatkan senyum bahagia..amin

Read Full Post »


image

Berhasil hamil melalui babyprogram walaupun ada kista

Saat pertama kali datang ditemukan kista coklat 5, 37cm.
“Tenang bu, jangan cemas..kan baru pertama kali berobat disini. Coba dulu deh pakai obat toh secara usia masih ada kesempatan waktu. (Red. Usia pasien 32 tahun). Tidak ada yang tidak mungkin bila Allah menghendaki hamil.”
Pertemuan kedua ukuran kista menyusut jadi 4, 37cm.
Pertemuan ketiga ukuran kista menyusut jadi dibawah 4cm dan…..SUDAH HAMIL

Semoga yang memiliki kista dan masih menantikan buah hati jadi lebih tenang dan percaya bahwa bila Allah berkehendak, ada kista pun hamil juga.

Read Full Post »


image

Niet Nice
saya jugak pertama x priksa k dokter suryo ada ditemukan kista coklat sbesar 5,6 cm..sempat down..tp Alhamdulillah melalui dokter saya yakin menjalankam promil dgn rutin minum obat dan menjaga pola makan..bulan depannya langsung hamil..dan skrg putri saya udah 1 bulan..

Pokoknya yang punya kista jangan cemas. .tetap usaha dan berdoa maksimal
Kadang sesuatu yang indah bisa hadir tanpa diduga.

Read Full Post »


RUPTUR UTERI

Ini adalah kisahku yang sangat jarang bahkan langka terjadi dalam kehamilan dan kelahiran selama ini..Sebelumnya perkenalkan Saya, Niken Puspitasari,30 tahun dan suami Agus Haryadi, 33 tahun. Kami menikah 24 Desember 2006, selang enam bulan setelah menikah karena belum juga hamil, saya periksa ke dokter kandungan, waktu itu saya tinggaldi kota SMG, ternyata di temukan kista endometriosis tapi dokter mengatakan diameter kista masih kecil sehingga belum perlu dilakukan operasi, dan disarankan untuk segera hamil. Saya pun telah melakukan tes HSG dan suami tes analisa sperma. Hasil analisa sperma oke tidak ada masalah tapi untuk HSG tidak bisa terlihat sampai dalam rahim karena alatnya tidak bisa masuk sampai ke rahim dan hanya berhenti dileher rahim saja, waktu itu dokter kandungan menyatakan bentuk rahim saya abnormal.

Kemudian pertengahan 2008 saya pindah ke kota S dan periksa ke dokter kandungan yang terkenal di kota tersebut dokter A namanya, oleh dokter tersebut saya harus operasi untuk pengambilan kista karena diameternya sudah besar dan mempersulit kehamilan. Dengan berbagai pertimbangan dan keinginan untuk segera memiliki keturunan akhirnya September 2008 saya menjalani operasi kista dengan teknik laparaskopi yang dilakukan oleh dokter A. Dari operasi tersebut selain pengangkatan kista juga ditemukan mioma dan telah dibersihkan semua. Setelah operasi saya mengikuti baby program bersama dokter A di klinik ingin punya anak. Berbagai program telah saya jalani sampai akhir tahun 2010 dan tidak menunjukkan hasil, hingga jalan terakhir saya harus manjalani kuretase dengan harapan setelah dikuret saya dapat hamil secara normal dan bila tidak hamil juga saya akan menjalani program inseminasi buatan atau bayi tabung. Karena takut kuret saya berganti dokter, beliau dokter senior di kota S dan telah banyak pasiennya yang berhasil hamil.

Awal tahun 2011 oleh dokter B saya diminta untuk diatermi karena terjadi penyumbatan tuba sebelah kiri. Selama 14 kali berturut-turut tanpa boleh putus saya melakukan diatermi dan didampingi obat dari dokter B, hingga kemudian 4 Mei 2011 menjadi menstruasi saya yang terakhir karena 1 juni saya tespack saya positif hamil. Awal hamil saya sering flek dan oleh dokter B saya diberi obat penguat dan kehamilan saya selanjutnya tidak terjadi masalah. Karena ini kehamilan pertama dan dinanti sangat lama saya dan suami mencari dokter pendamping untuk perbandingan, kali ini dengan dokter C dan dokter D. Sepanjang kehamilan dari minggu ke minggu ketiga dokter kami menyatakan kehamilan saya oke,janin aktif, detak jantung baik, air ketuban bagus dan 90% bisa melahirkan normal, hingga kehamilan saya memasuki minggu ke-32 semua masih baik dan tidak ditemukan masalah.

Jumat dini hari saat suami dinas keluar kota saya merasakan perut saya sakit sekali sampai kemudian dibawa ke rumah sakit dan diperiksa oleh dokter D, melalui USG keadaan janin,detak jantung, plasenta,air ketuban semua baik dan tidak tampak tanda akan melahirkan, akhirnya dokter D minta saya untuk pulang dengan diberi resep obat untuk mempertahankan janin saya sampai cukup usia untuk dilahirkan. Selama di rumah, perut saya masih saja sakit bahkan tidak berkurang sedikitpun, nafas saya menjadi sangat pendek dan untuk tidurpun harus saya lakukan dengan posisi duduk karena untuk berbaring sakit luar biasa.

Senin sore saya merasakan sakit yang teramat sangat hingga selasa 20 Desember 2011 pagi suami ambil keputusan untuk ke rumah sakit demi melihat saya tidak tega menahan sakit, perjalanan begitu sangat lama dan menyiksa karena setiap jalan yang tidak rata dan membuat mobil berguncang maka sakit yang luar biasa yang saya rasakan di perut. Sampai akhirnya dokter D memeriksa melalui USG tampak indikasi solutio plasenta dan saya harus SC saat itu juga. Namun sebelum SC dokter D minta saya untuk USG 3D (hasil USG saya lampirkan), cukup lama dokter radiologi melakukan observasi terhadap saya dan sampai diakhir kesimpulan saya harus segera masuk ruang operasi, saya lihat dokter radiologi langsung menghubungi dokter D melalui telepon karena begitu pentingnya hasil USG harus diketahui dokter A secepatnya. Semua perawat tampak panik dan saya ingat seorang perawat berkata kepada saya bahwa saya sedang berpacu dengan waktu karena keadaan saya dan janin yang sangat kritis. Sampai di ruang operasi tidak tertahankan sakitnya sampai saya merasakan anastesi sudah bekerja dan semua menjadi nyaman.

Ketika cukup lama dokter D melakukan tugasnya, ditengah operasi saya beranikan bertanya kepada dokter apakah bayi saya sudah lahir? Dokter D menjawab sudah dan dalam pengawasan dokter anak di ruang perawatan bayi, lalu dokter D bertanya apa yang telah terjadi dengan saya karena rahim saya ternyata mengalami robek dan perdarahan yang sangat banyak, waktu itu kata dokter D darah saya hilang 2 liter dan sudah banyak yang membeku dan memenuhi rongga perut. Dokter D bertanya apa saya mengalami kecelakaan? Saya jawab tidak, apakah perut saya mengalami benturan? Saya jawab tidak, apakah semalam saya berhubungan dengan suami? Saya jawab juga tidak. Saya dengar dokter D dan para petugas di ruang operasi merasa heran dengan keadaan di perut juga rahim saya. Mereka mengatakan baru sekali itu melihat kejadian seperti saya.

Akhirnya selesai sudah operasi dan saya dibawa ke bangsal perawatan. Infus berganti dengan kantong darah yang harus diberikan kepada saya dan telah disiapkan 4 kantong untuk mengembalikan perdarahan yang terjadi kepada saya (akhirnya habis 6 kantong). Ketika kulihat wajah suami yang penuh kekhawatiran, saya tidaklah paham karena sebenarnya bayi saya dalam kondisi kritis. Saat itu yang ada dalam hati saya adalah perasaan lega terbebas dari rasa sakit dan bahagia karena akhirnya memiliki keturunan setelah 4,5 tahun menanti.

Hingga dua hari kemudian tepat dihari semua orang merayakan hari ibu 22 Desember 2011 putri kecilku mengalami kejang dan perdarahan hingga akhirnya pukul 12 siang bidadari kecilku berpulang kepada pemiliknya. Waktu itu dokter anak mengatakan bayi saya mengalami hipoksia. Untuk pertama dan terakhir kudekap dan kucium dia sudah dalam keadaan meninggal. Saat itu yang terpikirkan olehku adalah betapa baiknya Alloh beri aku tabungan di surga, meski sakit dan sedih teramat dalam namun saya ikhlas. Padahal dua hari lagi 24 Desember 2011 adalah hari jadi pernikahan kami yang kelima dan harusnya menjadi kado terindah untuk kami, tapi Alloh berkehendak lain.

Esoknya dokter D mengunjungi saya dan ikut berduka dengan kepergian putri kecil saya, beliau menjelaskan tentang keadaan saya bahwa saya mengalami ruptur uteri disebelah kiri atas dan berdekatan dengan tuba kiri. Saya tidak boleh hamil sebelum dua tahun dan untuk kehamilan berikutnya saya harus dalam pengawasan ekstra ketat dari dokter dan kehamilan saya nanti tidak boleh sampai 9 bulan, karena begitu berat janin cukup akan segera dilakukan operasi SC kembali.

Seminggu kemudian saya kontrol luka operasi ke dokter D ,semua tampak baik sampai dokter D mengatakan saya sekarang hanya berharap pada ovarium kanan saja, yang padahal menurut dokter A yang dulu mengoperasi kista saya melalui HSG tuba kanan saya buntu dipangkal, dunia serasa runtuh dengan kenyataan tersebut.

Kadang terbersit penyesalan kenapa jumat waktu sakit perut tidak minta dilahirkan saja atau minta obat penguat organ janin sampai akan dilakukan operasi, tapi berpulang kembali kepada Alloh yang menguasai takdir setiap hambanya. Kini hanya pasrah dan doa yang dapat kami panjatkan, setelah setahun nanti kami akan program baby lagi, karena yang terpenting sekarang sembuh secara fisik dan mental dulu terutama kesembuhan rahim saya, karena letaknya yang di dalam yang tidak dapat dilihat dengan jelas, semoga Alloh yang akan mengoperasi rahim ini dan mengembalikannya dalam bentuk yang paling sempurna dan lebih kuat dari yang kemarin, dan memberi kepercayaan kepada kami kembali, amin..

**** (berikut saya lampirkan foto opersi kista saya september 2008 + hasil lab dari sampel kista, USG sebelum SC tanggal 20 Des 2011 + report dari dokter radiologi, yang ada gambar rahim adalah gambar tangan dari Dokter D menjelaskan ruptur saya Dok, USG terakhir sebulan setelah SC tanggal 1 Februari 2012 + report, semoga bermanfaat buat yang membaca dan saya minta tanggapan dari Dokter Suryo tentang operasi kista dan ruptur saya, karena sampai sekarang saya belum tahu penyebab pasti ruptur saya, bukankah Alloh menciptakan rahim yang lentur? tapi kenapa bisa robek? terima kasih)

Saya menyampaikan turut prihatin dan duka sedalam-dalamnya atas musibah yang Mrs Niken dan Mr Agus alami, dan saya juga menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya terhadap semua dokter yang menangani Mrs Niken. Saya yakin bahwa seluruh dokter yang menangani telah berusaha menangani sebaik-baiknya sesuai standar keilmuan yang ada. Apapun yang terjadi atas kehendak Allah, dan manusia tak ada kuasa untuk mengubahnya.

Kita sebagai manusia wajib berusaha lebih baik lagi dan belajar dari pengalaman yang terjadi. Beberapa hal yang bisa kita petik pelajaran disini adalah:

1. Operasi medis yang dilakukan dilanjutkan beberapa seri pengobatan ternyata memberikan hasil yang sangat baik dengan berhasil mendapatkan kehamilan. Disinilah hal yang kadang saya selalu sampaikan bahwa bila Tuhan menghendaki hamil, maka tiada hal yang tidak mungkin walaupun seberat apapun seperti kondisi Mrs Niken yang ada kista coklat, mioma, perlengketan, dll.

2. Setelah berhasil hamil, seharusnya Mrs Niken segera memutuskan dokter kandungan mana yang akan mengawasi secara intensif dan berkelanjutan. Pemeriksaan saat kehamilan dengan berpindah-pindah beberapa dokter dapat mengakibatkan pemantauan kurang ketat dan bisa terlewat petunjuk-petunjuk penting selama kehamilan.

3. Ruptur atau robeknya rahim Mrs Niken bisa terjadi karena adanya riwayat operasi mioma sebelumnya yang tentu mengakibatkan terbentuknya titik lemah di rahim (locus minoris) yang rentan untuk jebol. Timing jebolnya juga terjadi pada saat yang biasa terjadi yaitu diatas 7 bulan umur kehamilan, dan jebolnya juga bukan diam-diam (silent ruptured), namun ada sinyal yang nampak yaitu nyeri perut yang sangat hebat.

4. Suntikan pematangan paru sebenarnya bisa memberikan manfaat pada baby untuk mempersiapkan kematangan paru lebih cepat.

5. Untuk kehamilan selanjutnya tentu membutuhkan penanganan lebih intensif selama umur kehamilan, termasuk perkembangan baby dan bagaimana kondisi rahim dan deteksi dini kemungkinan munculnya tanda-tanda robekan rahim.

Semoga Allah memberikan kesempatan lagi bagi Mrs Niken dan keluarga untuk mendapatkan kehamilan dan dapat berlangsung lancar hingga lahirnya buah hati. Amin.

Read Full Post »



Saya langsung terpikir untuk menulis artikel ini, kenapa?? Karena beberapa waktu yang lalu dalam satu hari beberapa pasien datang dengan kondisi hamil dan adanya kista, bahkan beberapa datangnya berurutan lho. Sebagian hamil melalui baby program, sebagian hamil alami tanpa terapi. What a coincident, suatu kebetulan yang langka dan spesial.

Kista ovarium atau kista indung telur adalah suatu gangguan atau kelainan yang ditandai dengan adanya kantong berisi cairan di indung telur. Kelainan ini bukan merupakan kanker atau keganasan, namun sring mengganggu. Gangguan yang dapat `beliau` timbulkan adalah nyeri di perut, rasa penuh di perut, perut membesar, dan gangguan yang sering membikin frustrasi adalah sulit untuk bisa hamil. Tentu anda semua ingat kisah salah satu pasien, Mrs Pawati yang akibat adanya kista maka harus menunggu 9 tahun baru bisa hamil, itupun setelah terlebih dahulu dioperasi untuk menghilangkan kistanya.

Bicara masalah gangguan untuk bisa hamil, banyak sekali pasien yang datang dengan masalah itu. Rata-rata pasien datang setelah divonis harus operasi dan tidak mungkin bisa hamil tanpa terlebih dulu operasi. Biasanya kita masih beri toleransi untuk baby program selama 4-6 bulan, dan bila belum hamil juga baru kita kerjakan operasi. Tidak sedikit pasien yang berhasil hamil melalui baby program walaupun ada kista lho.

Yang sulit adalah bila pasien datang ingin baby program dan sudah pernah dikerjakan operasi di tempat lain. Kenapa sulit?? Karena kondisi sudah berubah pasca operasi, dan kita tidak tahu bagaimana operasi tersebut dikerjakan dan apa yang telah dilakukan. Oleh karena itu, yang lebih mengerti kondisinya tentu dokter yang mengerjakan operasi tersebut. Kadang kala kesulitan yang ditemui bila indung telur tersebut diangkat semua dan konservasi kesuburan kurang diperhatikan.

mybabyprogram.com

Read Full Post »


Operasi laparoskopi saat ini merupakan salah satu metode operasi yang cukup populer termasuk di bidang obgin alias kandungan. Saya sangat beruntung menempuh pendidikan spesialis kebidanan dan kandungan di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, karena cukup banyak mendapat pengalaman mengerjakan operasi laparoskopi ini.

Saat mengerjakan operasi tubal recanalization alias tubal reanastomosis, jenis operasi yang tergolong memiliki kesulitan tertinggi bersama Prof Peter Maher dari Australia


Saat mengerjakan laparoskopi dengan kasus kista endometriosis di RS Awal Bros Pekanbaru

Saat menempuh pendidikan spesialis, saya mendapat kesempatan belajar dari beberapa guru. Antara lain adalah saat berdinas di RSUD Ambarawa saya dibimbing oleh Dr. Mundjirin, SpOG (kebetulan beliau saat ini mencalonkan sebagai Bupati Semarang). Kasus yang saya kerjakan disana adalah laparoskopi sterilisasi dengan jumlah kasus yang cukup lumayan sekitar 50-70 kasus.

Kemudian pengalaman berikutnya adalah saat saya bertugas di RSUD Banjarnegara, saya mendapatkan ilmu laparoskopi dari Dr. Haryata, SpOG. Dengan peralatan yang terbilang sangat sederhana, kasus laparoskopi sterilisasi disini sangat banyak. Saya berkesempatan mengerjakan kasus antara 70-90 kasus, bayangkan dalam satu hari saja bisa 20 kasus dikerjakan secara simultan dan tiap tindakan hanya memakan waktu sekitar 3 menit!!

Saya juga mendapatkan pengalaman mengerjakan operasi laparoskopi di RSUD Wonosobo dibawah arahan Dr. Agung, SpOG. Selain mencicipi durian yang berlimpah di kota ini, saya juga mencicipi mengerjakan kasus laparoskopi sekitar 40-50 kasus.

Selanjutnya saat bertugas di RSUP Dr Sardjito Yogyakarta, pengalaman laparoskopi saya makin bertambah dengan tindakan yang lebih complicated. Kasus-kasus laparoskopi yang dikerjakan di Permata Hati, pusat penanganan kesuburan, lebih menantang dan lebih sulit. Disini ada beberapa guru yang mengajari saya seperti Dr. H Risanto, SpOG, Dr Amino Rahardjo SpOG, dan Dr. Hasto Wardoyo, SpOG.

Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis, saya cukup beruntung juga pernah belajar dari guru besar laparoskopi yang ada seperti Prof. Peter Maher (Australia) dan Dr. Yap Lip Kie (Singapura). Bahkan beberapa kali saya berkesempatan mengerjakan join laparoskopi dengan ahli laparoskopi seperti Prof Wahyu Hadisaputra (Jakarta) dan Prof Budi Hadibroto (Medan) saat mereka diundang ke RS Awal Bros Pekanbaru. Bookmark and Share

Read Full Post »


..

Happy family and their gorgeous baby boy

Tulisan-tulisan saya disini untuk dishare dengan pembaca terutama mereka yang menghadapi masalah yang sama. Harapan saya dengan ini maka bisa membangkitkan motivasi, dan memberikan inspirasi untuk mereka yang masih berusaha mendapatkan buah hati dan buah cinta kasih.

Tidak bosan-bosannya saya selalu memaparkan tentang Kuasa Tuhan yang tidak perlu diragukan lagi. Tuhan Maha Berkehendak yang jangankan merubah siang menjadi malam, merubah matahari terbit dari barat pun hal yang mudah untuk-Nya, apalagi hanya sekedar berkehendak untuk menjadikan suatu kehamilan.

Kali ini saya akan sampaikan suatu kisah nyata dimana pada kondisi yang secara medis menurut perhitungan manusia sulit terjadi, namun ternyata bisa terjadi atas kehendak Tuhan tentunya. Kondisi kista coklat dan endometriosi stadium lanjut sangat berat untuk mendapatkan kehamilan apalagi bila terjadi pecahnya kista coklat tersebut dengan sebaran endometriosis yang luas di dalam rongga perut. Kista coklat dan endometriosis menghambat untuk terjadinya proses kehamilan melalui distorsi secara mekanik maupun secara kimiawi dengan adanya reaksi inflamasi yang ditimbulkannya.

Saya kutipkan sebuah tulisan dari halaman facebook saya dibawah ini


Ahmad Najmi
tahun 2005 kami menikah di bulan november dan tdk ada program untk menunda kehamilan,dan alhamdulilla istri saya hamil setelah 1 bl kami menikah. Senang, pasti bahkan terlalu senang. Namun kebahagiaan kami hanya sebentar. 5 minggu usia kehamilan, istri saya keguguran. Sedih jg, tp kami tak ingin larut, kami trus brusah…a. 2 tahun berjalan tak jg ada tanda2 kehamilan. Sampai akhirnya istri saya divonis kista stadium 4 oleh dr lily. Jln satu2nya adalah operasi. Namun tdk kami lakukan krn istri saya tkt bila operasi akan sulit hamil. Sampai pd suatu ketika kista istri saya pecah dan membuat kondisi istri saya sgt lemah. Dan saya larikan ke RS. Di RS saya mencari dr lily namun dr lily sedang sibuk dgn pasien lain, lalu kami menanyakan dr yg ada pd saat itu, krn kondisi istri saya sdh sangat lemah. Akhirnya pihak RS menawarkan dr suryo kpd saya dan saya menyutujuinya, sampai akhirnya ditangani oleh dr suryo dgn jln operasi. Krn yg terpenting saat itu adalah kondisi istri saya…bersambung
See More
5 hours ago

Ahmad Najmi
begitulah awal kami kenal dgn dr suryo. Selanjutnya kami berkonsultasi dgn dr suryo tentang dampak dr operasi tsb dgn beliau,dan dr suryo memberikan keyakinan pd kami bahwa istri saya bs hamil lg, hal itu penting buat kami terutama istri saya karena sempat down secara mental, karena komukasi yang baik dgn dr suryo maka… kami putuskan untuk beralih ke dr suryo guna menjalani program hamil. Sampai bln ke 8 program tsb istri saya dinyatakan hamil. Singkat crita tepat 24 desember anak kami lahir dgn bantuan dr suryo. Saat itulah merupakan hari yg plg membahagiakan kami berdua. Terima ksh ya ALLOH SWT. Jg kpd dr suryo yg dgn sabar membantu kami untk memiliki keturunan…good job dr, tdk bnyk dr spt anda di pku…lengkap sdh hidup kami krn ada nael anak kami, dan skrg insyaalloh nael akan punya adik dan dr pasti tahu kmana kami akan berkonsultasi untk kehamilan kedua istri saya…hehe…skali lg trima ksh dok. Dan jgn pernah brubah,tetaplah spt dr suryo yg kami kenal…wasalam
See More
4 hours ago

Setelah membaca tulisan di atas, semoga akan memberikan spirit dan sikap positif untuk selalu berusaha. Bookmark and Share
……………….

Read Full Post »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 907 other followers